Place your ads here 468x60 px

Senin, 05 September 2011

Sudut Pandang Orang Kedua Dalam Sebuah Novel

Banyak orang yang masih mengira bahwa orientasi sudut pandang dalam sebuah cerita dibagi menjadi dua yaitu: sudut pandang orang pertama dan orang ketiga. Padahal sebenarnya, sudut pandang orang kedua juga ada. Namun, banyak penulis yang lebih memilih sudut pandang orang pertama dan ketiga dibandingkan orang kedua. Tapi ada juga beberapa karya seperti Dadaisme (Dewi Sartika, 2004), Cala Ibi (Nukila Amal, 2004), dan Kabar Buruk dari Langit (Muhiddin M. Dahlan, 2005). Sayangnya, sudut pandang orang kedua pada ketiga novel ini tidak utuh atau tidak sepenuhnya dipakai dalam keseluruhan novel.

Sudut pandang orang pertama: “ Aku bersepeda mengelilingi kompleks perumahanku, hanya sekedar olahraga ringan saja,” Disini, si akulah yang menjelaskan apa yang ada dipikirannya, apa yang sedang ia lakukan dan sebagainya.

Sudut pandang orang ketiga: "Andrea melihat Vanessa dengan seksama. Tampak sudahlah bekas tangisan yang ditahan Vanessa sedari tadi," Disini, muncul orang ketiga yang seakan-akan tahu untuk menjelaskan semuanya.

Pelaksanaan sudut pandang diatas banyak kita jumpai diberbagai novel, baik novel terjemahan maupun novel remaja. Jadi, bagaimana sebenarnya bentuk dari sudut pandang kedua itu?

sudut pandang orang kedua: "Seseorang menepuk bahumu dari belakang. Kau terkejut melihatnya, begitu juga ia. Orang itu tersenyum dan membuatmu bertambah bingung."  Nah, bukankah sulit untuk menulis novel dengan sudut pandang seperti ini? Penjelasannya adalah: si pengarang tidak boleh menggunakan dirinya untuk menceritakan kisah novel tersebut. Dia harus menggunakan seseorang, yang diganti dengan kamu dan orang yang lain yang diganti dengan dia atau ia atau orang itu. Apa sudah mengerti?

Sebenarnya, ada banyak lagi sudut pandang yang tidak kita ketahui seperti: sudut pandang orang pertama jamak (kami, kita), sudut pandang orang kedua jamak (kalian), dan sudut pandang orang ketiga jamak (mereka). Kalau dibayangkan, seperti pelaksanaan sudut pandang ini akan menjadi agak ribet karena kita jarang menggunakannya. Lagipula, dengan sudut pandang seperti ini, para pembacanya juga pasti tidak akan mengerti.

Siapa yang mau mencoba untuk menggunakan sudut pandang kedua??

SUMBER: http://bermenschool.wordpress.com/2009/10/01/sudut-pandang-orang-kedua-dalam-cerita/ dan http://abouthaniyyah.blogspot.com/2009/11/sudut-pandang-orang-kedua.html :)

1 comments:

Saya sudah mencoba membuat cerita dg sudut pandang kedua, dan menurut saya itu lebih mudah daripada membuat cerita menggunakan sudut pandang orang pertama maupun ketiga. Tapi bodohnya saya tidak tahu kalau saya menggunakan sudut pandang kedua, setelah dikritik dan sedikit perdebatan saya akhirnya tahu saya menggunakan sudut pandang kedua hehe

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More